Posts

Showing posts with the label Cerita

Bermimpi

"Kamu tahu, saya seorang pemimpi," Aku berkata sambil menghirup latte -ku sedikit demi sedikit. Dipandangnya aku dengan senyum, "Tentu saja saya tahu, kamu sering sekali membicarakannya." "Dulu saya sempat benci bermimpi, benci sekali," aku terdiam sebentar, "saya dulu sempat berpikir mimpi hanya membawa saya menuju kekecewaan, dan saya benci untuk menjadi terpuruk; walau nyatanya yang terjadi memang begitu ." "Lalu, apa yang membuat kamu kembali bermimpi?" "Bagaimana menurut kamu?" "Saya melihat mimpi sebagai kekuatan hidup, pegangan saya kalau sedang jatuh." "Saya pun menganggap mimpi memiliki kekuatan semagis itu. Dulu saya kira dengan saya berhenti bermimpi, segala keterpurukan saya akan berakhir." "Nyatanya?" Ia bertanya, prihatin. "Nyatanya keterpurukan malah semakin mendatangi saya; rasanya keterpurukan itu selalu melihat saya dari balik jendela, menunggu di bawah tempat tidur ...

Scream

( Writer's note : I'm not really fluent in English.) I was sleeping, I guess, when something -I don't know what it is- forced me to wake up. But instead of finding myself lying on bed, or at least lying down, I am standing in a room filled of papers. There is a window in front of me, and from the view it shows, I conclude that this room is not in the first floor. It's not too far from the ground, though. Where am I? I don't know what place it is. Why am I here? It takes me some time to realize I'm bringing something in my hand. A knife. Wait... a knife? What did I do with it? Did someone put it in my hand while I was unconscious? I don't find any answer for my questions. No, I can't. I'm now shocked on what I find next; the knife is full of blood. And a woman is lying in front of me, with a gash at her chest. Her face is covered with some sheets of paper. Their colour is white, but blood makes some of their parts red. Did I kill her? I remove ...

Truth or Dare

Aku menunggu dengan gelisah di luar restoran. Di tanganku ada sebuah kantong yang berisi hadiah untuk teman baikku, Hans. Aduh, dia jadi datang nggak ya? Ting tong. Ada sebuah SMS. Pasti Hans! Aku pun segera membukanya. Aduh, maaf Lun, aku nggak jadi dateng. Mendadak harus nemenin keluargaku. Maaf ya :( Aku tersentak di situ... masalahnya kami sudah merencanakan pertemuan ini sejak lama; di reuni yang diadakan SMP kami. Kami sekarang sudah SMA, dan kebetulan ayahku pindah tugas ke luar kota. Jadi kemungkinan kami bertemu kecil sekali. Hari itu mungkin adalah satu-satunya. Aku sampai beli tiket kereta cuma buat acara ini. Tapi nggak apa-apa deh, memangnya aku ke sini cuma buat bertemu dengan Hans? Sekalipun aku memang nggak begitu akrab sama teman SMP-ku, karena cuma 1 bulan aku belajar dengan mereka. Woles ajaa, selamat menikmati acaranya deh ya aaa Aku pun segera masuk. "Yaampun Luna ke mana aja? Dicariin dari tadi!" satu-satunya temen dekatku selain Hans, Arin, menepu...