Bermimpi
"Kamu tahu, saya seorang pemimpi," Aku berkata sambil menghirup latte -ku sedikit demi sedikit. Dipandangnya aku dengan senyum, "Tentu saja saya tahu, kamu sering sekali membicarakannya." "Dulu saya sempat benci bermimpi, benci sekali," aku terdiam sebentar, "saya dulu sempat berpikir mimpi hanya membawa saya menuju kekecewaan, dan saya benci untuk menjadi terpuruk; walau nyatanya yang terjadi memang begitu ." "Lalu, apa yang membuat kamu kembali bermimpi?" "Bagaimana menurut kamu?" "Saya melihat mimpi sebagai kekuatan hidup, pegangan saya kalau sedang jatuh." "Saya pun menganggap mimpi memiliki kekuatan semagis itu. Dulu saya kira dengan saya berhenti bermimpi, segala keterpurukan saya akan berakhir." "Nyatanya?" Ia bertanya, prihatin. "Nyatanya keterpurukan malah semakin mendatangi saya; rasanya keterpurukan itu selalu melihat saya dari balik jendela, menunggu di bawah tempat tidur ...