Posts

betapa ingin

dan di antara jalannya kereta pulang yang membentuk simfoni dengan rel itu, betapa ingin ia katakan pada seseorang bersorot mata teduh, "Kamu sangat berarti, jangan pernah pergi." ---------- dan di antara canda tawa yang kadang terdengar kadang tidak itu, betapa ingin ia ucapkan, pada seseorang; pendengar terbaik yang pernah ia kenal, "Kamu sangat berarti, datanglah kemari, dan jangan pergi lagi." ----------- dan di antara alunan hujan dan radio yang mengiringi jalan menuju rumah itu, betapa ingin ia bisikkan pada seseorang dengan senyum paling menyenangkan yang pernah ia lihat, "Kamu sangat berarti, bisakah kamu tetap di sini?" -------------------------------------- "But I've never seen anything quite like you tonight No, I've never seen anything quite like you " - Never Seen Anything "Quite Like You" , The Script hai :)

Takdir

Embun betapa ia ingin berpadu dengan daun namun tiap kali ia merasakan itu tidak perlu waktu lama sebelum takdir menuntunnya untuk jatuh; menuju tempat yang jauh yang membuat keinginannya menjadi mimpi yang tidak lagi menyimpan kesempatan untuk dijangkaunya Awan betapa ia berharap untuk bersama langit selamanya tapi ketika ia sudah merasa memiliki waktu akan mengejarnya hingga takdir memintanya untuk jatuh; hingga ia pun merintik seraya menjauh meratapi harapannya yang harus ia kubur bersama rintiknya yang jatuh diserap tanah dan dirinya betapa ia rindu; namun takdir tidak sememudahkan itu takdir tidak sesederhana itu.

Sebuah Keluarga Baru: Pelatnas I IBO 2016 (Part 1)

Image
Kami adalah sekelompok remaja yang bermimpi besar untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional. Kami adalah ilmuwan-ilmuwan cilik dari generasi penerus bangsa yang tentunya ingin bangsanya lebih maju di kemudian hari. Kami adalah murid-murid bangsa yang dipersatukan oleh kecintaan yang mendalam terhadap suatu bidang; Biologi. Hai. Sudah lama sekali rasanya aku ingin menulis soal ini, Pelatihan Nasional Tahap I International Biology Olympiad 2016. Iya, pelatnas! Seperti yang pernah aku tulis di sini, sebagian peserta Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi akan mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi kembali untuk menjadi wakil Indonesia di IBO. Pelatnas I, pelatnas yang aku ikuti, terdiri atas 30 besar OSN 2015; 15 peringkat teratas kelas 12 dan 15 peringkat teratas kelas 11. Aku termasuk yang mana? Sebagai anak akselerasi, aku memilih untuk mendaftarkan diriku sebagai kelas 12. Biar nantinya, kalau aku memang lolos ke tahap selanjutnya, itu memang karena ke...

Refleksi (setahun ke belakang)

Tidak terasa ya, sudah mau tahun baru lagi. Tahun ini... rasanya luar biasa bagiku.  Bukan karena tahun ini isinya seluruhnya bahagia seperti indikatorku akan keberhasilan pada tahun-tahun yang lalu, melainkan karena... pada tahun ini, aku seperti mulai diajarkan hidup oleh-Nya. Mimpiku dua tahun yang lalu, alhamdulillah, tercapai pada tahun ini, tepatnya pada bulan Mei 2015. Medali Olimpiade Sains Nasional! Selain itu, aku juga mendapat teman-teman (dan juga  seseorang, ehem :)) yang menyenangkan dari seluruh Indonesia, pengalaman yang tidak tergantikan, dan banyak ilmu baru yang sangat berguna. Ceritaku tentang OSN aku tulis di sini dan di sini. Setelah mimpi itu kugapai, hari-hari berubah menjadi sangat menyulitkan. Aku pergi sebulan dari sekolah untuk kompetisi itu, untuk kemudian datang kembali empat hari sebelum UAS. Sungguh, rasanya aku tidak sanggup sama sekali mengejar semua pelajaran waktu itu. Masih terbayang bagaimana aku merasa dua minggu terakhir semester 3-ku ti...

mengunjungi yang pergi

Selalu miris mengingatnya; rumahku adalah yang terdekat di antara teman-temanku dengan tempat peristirahatan terakhirnya, tapi tidak sekalipun aku pergi ke sana lagi setelah prosesi pemakaman berbulan-bulan lalu. Aku juga hampir tidak pernah mendengar teman-temanku mengunjunginya, sekalipun kami sering membicarakan tentangnya dan kerinduan kami, sampai akhir-akhir ini. Minggu ini teman-temanku pergi ke sana; mungkin untuk bercerita bagaimana keadaan saat ini, atau mengucap rindu padanya, atau mungkin sekedar ingin mengelus nisannya yang sekarang sudah berupa batu dengan namanya yang terpampang besar itu... aku tak tahu. Yang jelas teman-temanku seperti bahagia, akhirnya dapat pergi ke sana setelah sekian lama. Mungkin dengan melakukannya, mereka dapat merasakan kehadirannya kembali... walau sebentar saja. Lalu mengapa aku tidak ke sana? ...berat. Sungguh. Aku tidak ingin menangis saat mengunjunginya, ia harus bahagia, dan untuk itu ia harus tahu bahwa kami baik-baik saja setelah segala...

(Jadilah Seperti) Cemara

Anganku setiap harinya, adalah menjadi seperti cemara tanpa mengeluh ia naungi sekitarnya dengan rimbun daunnya seberat apapun rintik embun yang harus ia pikul di antaranya; dengan sepenuh hati, ia lindungi sekelilingnya, karena selamanya, ia adalah teduh cemara adalah teduh. Harapku setiap saat, adalah menyerupai cemara tetap tegap ia menjulang sesering apapun angin mengusiknya; hidupnya seakan diisi keinginan kuat, untuk terus tumbuh mengamati hari yang baru menikmati setiap waktu bersama bumi, hujan, dan mentari; yang mungkin, adalah alasannya untuk tetap bertahan. Ia adalah kekuatan, cemara adalah kekuatan. Citaku setiap waktu adalah menjelma menjadi cemara tiada sesuatupun yang dapat mengubahnya sesulit apapun badai yang menghampirinya; ia adalah hijau ia adalah  evergreen . Jadilah teduh, jadilah kuat, jadilah bertahan ... jadilah seperti cemara.

selamat jalan, kesayangan

Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin, setahun lalu itu. Saat itu, kami ber duapuluhdua akan menghadapi ujian akhir pertama kami. Saat itu, kami baru mulai saling mengenal, namun canda tawa sudah memenuhi kelas kami setiap harinya. Saat itu, senyum-senyum kami pajang lebar sekali. Senyummu menjadi salah satunya. Senyum kamu, yang tidak pernah menyinggung kami, yang memerhatikan kami semua dengan sepenuh hati... kadang kamu bahkan lebih mementingkan kami daripada dirimu sendiri. Aku sendiri belum pernah bertemu orang sebaik kamu, flawless . Perfect . Kita semua nggak tahu apa kekurangan kamu. Sifat yang kayak malaikat, pintar di segala bidang, paras yang cantik, shalehah luar biasa, dan senyum yang selalu mengembang. Kami semua kagum sama kamu. Kami semua sayang sekali sama kamu. Tak pernah terbayang di benak kami, harus kehilangan secepat ini. Kelas bakal beda, kamu tahu. Kami semua bakal beda. Aku bakal kangen luar biasa. Nggak, nggak, aku udah kangen. Tapi kami ( harus ) ...